About Me ~

Foto saya
Tangerang, Banten, Indonesia
Ayano Mamoru. Animangamers. Fandubber.

Jumat, 22 April 2011

Curcol di Sabtu siang

Baru saja selesai membaca buku Marmut Merah Jambu-nya bang Raditya Dika. Iye, tau ketinggalan banget gue. Diem aja deh.

Gue suka banget bagian Cinta tak terbalas nya bang Dika. gue banget.

Oke, gue ceritain pengalaman gue.

-------------------------------------------------------------------------------------
.
#nowplaying You Belong with me - Taylor Swift (biar lebih dalem)
.
-------------------------------------------------------------------------------------

Hari itu--gue lupa kapan--gue pindah ke rumah gue yang sekarang. Gue ngeliat ada 3 anak, 2 perempuan 1 laki-laki, lagi main. kayaknya seru banget tuh, pikir gue. Akhirnya gue disuruh kenalan sama bokap-nyokap. Mari kita samarkan namanya disini, yang laki-laki itu namanya Rangga, cewek yang rambutnya pendek itu namanya Rui, cewek yang rambutnya panjang--yang ternyata adeknya si cowok itu Lia.

Pertama kali gue ngeliat si Rangga, gue pikir tuh anak biasa-biasa aja, tapi, nyatanya dia keren banget, boy. Juara Taekwondo, pemain basket, jago olahraga, dan pinter. Yeah, tipe gue banget.

Beberapa lama, gue mulai suka sama dia. Main dokter-dokteran bareng, main rumah-rumahan bareng, main bulutangkis bareng... yeah. Dulu gue sering main sama dia. Tapi itu dulu.

.

Dulu, waktu masih sering main bareng, kita--gue, dia, adek-adeknya--main dokter-dokteran. Gue jadi dokter. Lia (dia seumuran sama gue, sedangkan Rangga setahun lebih tua) jadi suster. Rangga dan adek-adeknya yang lain jadi pasien.

Rangga dapet urutan pertama buat diperiksa. Lia nganterin pasien lainnya ke ruang tamu rumah gue yang dijadikan sebagai ruang tunggu. Gue sama Rangga ditinggal berdua didalem kamar gue yang jadi tempat meriksa.

"Aaaahhh..." Si Rangga megangin tangannya sambil pura-pura kesakitan.
Setelah beberapa lama awkward moment, gue menyadari apa yang terjadi dan sontak muka gue merah banget dan tanpa alasan langsung keluar kamar.

"Li! Kok lo keluar sih! temenin dong!" Omel gue dengan muka udah kayak tomat busuk.

Si Rangga menyusul dibelakang. Seperti baru menyadari apa yang dia lakukan, Lia tersenyum jail.

"Enak ditinggal berduaan aja, eh?"

Kalimat yang tadi Lia bisikin ke gue membuat muka gue tambah merah, campuran antara malu, kesel, dan senang.

"I-iiihhh! Apasih! Mending kamu aja yang periksa si Rangga! Aku periksa pasien lain!" Elak gue dengan muka udah gak karuan. Saking paniknya, bahkan gue pake aku-kamu.

Si Lia ketawa, lalu mengajak kakaknya ke kamar gue a.k.a ruang periksa. Dan gue memeriksa yang lain.

Dari situ gue mulai sadar dengan perasaan gue....

.

Setelah beberapa tahun memendam perasaan ini walau kadang gak kuat, belum lama ini gue denger si Rui (yang sekarang dipesantren) juga naksir sama si Rangga. Hancurlah hati gue berkeping-keping.

Tamat.

Enggakdeng, gue mulai jauhin si Rangga biar gak suka lagi sama dia. Gue ngalah aja deh buat sahabat gue. Tapi, bukannya malah gak suka, gue malah tambah suka sama Rangga. Ampuuunnn......

Suatu hari, gue coba nge-stalk facebook-nya Rangga. Gue ngeliat dia seriiiinnggg banget ngobrol sama yang namanya (Disamarkan juga, sebut saja) Via. Kelihatannya deket banget pula. Disitu hati gue kayak hancur (lagi).


gambarnya....

Sampai sekarang gue gak berani buat nyatain perasaan gue dan sakit sendiri kalau ngelihat dia sama orang lain.

Kesimpulannya, guys, Jika tidak berani menyatakan perasaan, harus berani menerima kenyataan.

Oke, entri ini gaje lagi. Makasih udah mau denger curcol-an saya.
Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger